Pages

Senin, 03 Oktober 2011

Kebudayaan Popular

  1. Beberapa Pandangan mengenai Kebudayaan Popular

Di dalam buku Culture and Anarchy, Matthew Arnold mengatakan bahwa Definisi Kebudayaan[1] terbagi menjadi empat, yaitu: Pertama, Kemampuan untuk mengetahui apa yang terbaik; kedua, Apa yang terbaik; ketiga, Aplikasi mental dan spiritual dari apa yang terbaik; dan yang terakhir adalah Pengejaran dari apa yang terbaik
Dari keseluruhan essainya, Arnold juga menyebutkan bahwa untuk merekomendasikan kebudayaan sebagai bantuan yang besar mengenai segala kesulitan-kesulitan yang akan kita alami di masa yang akan datang; Kebudayaan sebagai pengejaran dari kesempurnaan kita untuk mengetahui, dan dari semua hal yang menjadi perhatian utama kita, pemikiran dan perkataan terbaik di seluruh dunia, dan melalui pengetahuan ini memunculkan pemikiran-pemikiran dan paham-paham baru, yang sekarang lebih kuat tapi secara mekanik, secara berlebihan menggambarkan bahwa ada kebaikan dalam mengikuti mereka dengan setia yang akan menghilangkan kejahatan dalam mengikuti mereka secara mekanik.
Arnold tidak menggambarkan secara jelas mengenai kebudayaan popular di dalam karyanya, namun dengan terciptanya buku yang berjudul Culture and Anarchy, maka akan menambah pengetahuan dan bisa menjadi referensi untuk mempelajari kebudayaan populer lebih lanjut.
Dwight Macdonald juga menghasilkan karya dalam bentuk Essai yang juga berkaitan dengan kebudayaan populer, yang berjudul A Theory of Mass Culture yang menyebutkan bahwa budaya massa atau menggali di bawah kekuasaan Kebudayaan Tinggi. Budaya massa adalah budaya parasit, memberi masukan kepada kebudayaan tinggi, sementara itu tidak menawarkan apapun kembali, seperti yang disebutkannya:
Kebudayaan rakyat tumbuh dari bawah, Spontan, ekspresi dari penduduk asli di masyarakat, dibentuk oleh mereka sendiri, tanpa keuntungan dari kebudayaan tinggi, untuk memnuhi kebutuhan mereka sediri. Budaya massa dibuat dipakai dari atas. Dibuat oleh teknisi dan disewa oleh para pebisnis; penontonnya adalah konsumen yang pasif, partisipasi mereka terbatas dengan pilihan membeli atau tidak membeli. Penguasa-penguasa aspek kemasan (kitsch), mengeksploitasi kebutuhan budaya dari masyarakat atau orang banyak, untuk mendapatkan keuntungan atau/dan untuk membentuk aturan kelas mereka. Di negara-negara komunis, hanya tujuan kedua yang dapat diraih. Kebudayaan rakyat adalah instusi rakyat pribadi, taman kecil pribadi mereka terbatasi dari taman formal kebudayaan tinggi. Tetapi budaya massa menghancurkan tembok itu, mengintegrasi massa untuk membuat bentuk baru dari kebudayaan tinggi dan akhirnya menjadi sebuah alat untuk dominasi politik.[2]
Dalam karyanya ini menunjukkan kritik Dwight Macdonald atas budaya massa yang memanfaatkan kebudayaan tinggi dan kebudayaan rakyat yang akhirnya membentuk suatu kebudayaan popular dikemas dalam bentuk yang baru dan akhirnya lebih menekankan pada kepentingan komersial dan akhirnya menjadi sebuah alat untuk dominasi politik.
Raymond William menyebut di dalam karyanya yang berjudul The Analysis of Culture, bahwa Kebudayaan sebagai satu atau dua atau tiga huruf yang paling rumit dalam Bahasa Inggris. William juga mengkategorikan tiga definisi dari Kebudayaan: Yang pertama ialah berdasarkan ‘Antropologi’, kebudayaan adalah menggambarkan khusus tentang kehidupan manusia. Kedua, Ada definisi ‘sosial’ dari kebudayaan, dimana kebudayaan adalah penggambaran dari cara hidup yang khas, yang mengekspresikan arti-arti dan nilai-nilai tertentu tidak hanya dalam pelajaran dan seni, tetapi juga dalam institusi-institusi dan perilaku tertentu. Dan yang ketiga, Terdapat ‘dokumenter’ dimana kebudayaan adalah tubuh dari karya imajinatif dan intelektual, dalam hidup dan karya-karya, dimana, secara mendetil pemikiran dan pengalaman dan pemikiran manusia direkam secara berbeda.
Di dalam karyanya ini menunjukkan proses manusia yang berusaha untuk mengumpulkan, meneliti dan mengkaji lebih dalam tentang kebudayaan, dan di dalam proses pencarian itu terbentuklah suatu bentuk kebudayaan baru, yaitu kebudayaan populer yang sekarang telah tersebar luas di masyarakat.[3]

Hal-hal yang membedakan Kebudayaan Tinggi dan Kebudayaan Populer

Kebudayaan tinggi ialah suatu kegiatan atau aktifitas yang dilakukan dengan rumit, inklusif, tidak boleh berubah, unik, dan tidak memiliki tujuan komersil serta tidak semua orang dapat melakukannya dan menikmatinya. Sedangkan Kebudayaan popular merupakan sederhana, dapat dinikmati oleh semua kalangan, meripakan bentuk pemberontakan terhadap kebudayaan tinggi, dan memiliki tujuan komersil. Dalam pembentukannya budaya populer memanfaatkan baik kebudayaan tinggi dan kebudayaan rakyat, sehingga proses pembentukannya dapat menjadi salah satu objek dalam ranah studi budaya (cultural studies) yang membahasa apa dan bagaiman sebuah kebudayaan dapat terbentuk.

2.      Kebudayaan Populer

Pada awalnya budaya populer adalah merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap kebudayaan tinggi. Karena Kebudayaan tinggi merupakan suatu kebudayaan yang bersifat inklusif, hanya dapat dinikmati oleh kalangan elit, tidak boleh berubah, unik, dan tidak mempunyai tujuan komersil, namun karena kebutuhan massa akan kebudayaan yang tidak dapat mereka nikmati secara bebas, maka terbentuklah budaya populer yang memanfaatkan kebudayaan tinggi dengan kemasan yang berbeda.
Kebudayaan populer merupakan kebudayaan yang dianggap parasit oleh kebudayaan tinggi, seperti apa yang telah dingkapkan oleh Dwight Macdonald yang berjudul A Theory of Mass Culture. Dalam perkembangannya budaya populer juga memanfaatkan kebudayaan rakyat yang awalnya hanya tersedia untuk kalangan tertentu. Kemudian  Kebudayaan populer menggunakan budaya tinggi dan budaya rakyat untuk menarik minat masyarakat yang kebutuhannya akan kebudayaan semakin tinggi. Kebudayaan populer kemudian menggabungkan kedua kebudayaan itu dan membungkusnya dengan kemasan yang menarik (kitsch) perhatian orang banyak dan akhirnya menjadi mempunyai tujuan komersial di dalamnya.


[1] John Sorey. “An Introduction to Cultural Theory and Popular Culture.” British Library Cataloguing in Publication Data. 1993. hlm 23.
[2] Op, Cit. hlm 37
[3] Raymond William. The Analysis of Culture. The Long Revolutions, Chatto & Windus, London, 1961. hlm 55.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar